........................SELAMAT DATANG DI BILIK KECILKU......................

Tuesday, November 30, 2010

Editor Dadakan

Diterima kerja jadi editor? Ngimpi kali….Tenang, ini bukan soal terima job formal. Melainkan job dadakan. Begini ceritanya.

Teeeeeeeetttttttt…hp bergetar sambil diiringi suara merdunya Bondan Prakoso itu lho.

“Von, Miss A minta malam ini bisa?”

“Whaaaaaaaaat?” sambil bola mata nyaris mencelat.

Meluncurlah kalimat bla..bla..di layar si pinky tersayang. Kalau si Om bilang hape colek hahaha * tapi aku gak suka colek2 lho*



Kembali soal job dadakan itu. Sanggupkah semalam aku mengerjakannya? Sementara siang-nya aku mengalami prahara yang melelahkan hati. Bayangkan saja, bener lho aku Cuma minta kalian bayangkan. Jangan coba-coba lakukan.

Di KM 8,5 sempat celingak-celinguk menunggu angkutan setelah keluar dari warnet dengan wajah ditekuk.

“Maaf, mbak…full” wushh hembusan nafas segarku keluar.*baru kesiram air*

Satu dua menit tak juga muncul monyong angkutannya. Dan aku pun memilih berjalan sambil sebentar-sebentar tolah-toleh ke belakang. Siapa tahu ada angkut lewat. Hingga KM 7,5 tak kunjung lewat sekedar menyapaku.

“Mari mbak manis…….” *kelamaan nunggu dipuji orang :P *

Tidak, tidak ada sapaan seperti itu. Menatap jarum jam di pergelangan tangan. Hari semakin siang tapi belum sampai puncak pukul 12 siang ding. Dari pada manyun sambil jalan, aku memutuskan untuk senam jari. Mengirim pesan kesana-sini. Dan yang membuatku semangat adalah curhat Si Cubby soal temannya yang sok lebay. Asli lebay bangeeeeeeeeeeeeeeet. Begini nech lebaynya.

“G chayank q cinta q demi sebuah janji…pasti q lakukan”

*tanpa mengurangi bentuk aslinya.* Aku bacanya sambil membekap mulut, pengendalian diri tahap awal untuk tidak ngakak.

Usai baca sms sejenis kayak gitu. Langsung cliiiiing…..ada angkot? Bukaaaaaan. Tapi mataku tertuju pada sebuah plakat. “PenitiNet” hatiku kalau bisa dilihat pasti sedang lonjak-lonjak kegirangan.

Aku ngibrit belok kiri. Urusan angkot? Belakangaaaaaaaan.

Akhirnya bisa ketemu sama Mas Warnet hohohoho….*moga g ada yg cemburu baca bagian ini.Kebangetan kalu cemburu*

Ngapain saja di warnet? Udah ah, gak perlu diceritain. Nanti kepanjangaaan ceritanya dan keluar dari topik aliat OOT. *Nyengir. *Selesai dari warnet, aku nunggu angkot. Gak dapat juga. Jalan lagiiiiiiiii kurang lebih setengah KM buat fotocopy ini dan itu. Baru dech duduk manis depan counter fotocopy sambil nunggu angkot.



Dalam Angkot menuju perempat kentongan, eh Kentungan. Mana itu, Von? Silakan cari sendiri di peta atau berburu di mbah google.

Belum sampai perempatan, otakku langsung nyangkut pada sesuatu. ATM.

Pas kebetulan juga ada pesan masuk.

“Von, udah belum?” baca sambil nyengir kuda.

“Belum mbak. Masih mau nyari ATM nech.” Terkirim dengan selamat. Dan mataku bersibobrok dengan kotak ajaib yang nyembulin uang itu.

“Pak, kiriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…….” Aku mengulurkan uang selembaran dengan angka 2 dan uang receh.

Turun dari angkutan aku masih harus menunggu.

“Maaf, mbak. ATM masih diisi.” Ujar si Mas Cakep memamerkan senyumnya yang cute…….*semoga diampuni karena gak bilang-bilang*

“Iya, mas. Gak apa-apa.” Jawabku sambil menunduk ke arah jalan raya. Ingat pesan tidak boleh melirik-lirik. Eh tapi khan gak lihat ya dia. Selesai urusan ATM, menuju perempatan ketongan itu aku masih jalan lagi. Silakan saja dijumlahkan dengan yang di atas kalau aku menambahkan 500 meter kemudian. *Ngusap peluh*

Menuju tempat yang menjadi prahara. Sekaligus penambahan jarak jalan kakiku yang tak menghasilkan apapun alias tangan kosong. *nyesek hati



Aku memutuskan perjalananku ke pusat kota. Melepas penat hati karena kecewa berat. Apa ini salahku?

Tuhan, betapa semua Kuasa ada di tangan-Mu. Ini sebagian upaya perjuanganku dari sebuah keputusan. Menangis di jalan pun tiada guna. Malu pada pohon yang berjejer tegar di tepian jalan. Malu pada aspal hitam yang setiap saat terlindas beragam ban. Ah, hidup perlu kerja keras. Aku sadar, setelah memanjakan diri sekian hitungan hari. Tak apa, mungkin belum bagianku. Semua sudah tercatat tentunya di sana.

Kembali ke job dadakan. Sesampai di rumah, aku bergegas mandi dan sholat. Makan? Sudah nyicip bakso di pusat kota yang harganya amit2. dengan rasa yang tak kunikmati sepenuhnya. Asal perut terisi dari pada Mr. Nos mengomel-ngomel padaku tak mendengar nasehatnya.



Membuka si butut yang sangat usang. Bahkan pernah divonis bakal kena hukuman mati seumur hidup sama hakim reparasi. Alhamdulilah, dia masih setia menyalak-nyalak hingga kini. Membongkar naskah yang perlu dibantai, eh diedit.

Cukup dengan ngedit? Tidaaaaaak, ternyata masih banyak bagian yang perlu direvisi. Sungguh pekerjaan yang tidak mudah. Aku bekerja dengan memeras otak, mata dan jari. Sementara suasana hatiku sangat berantakan. Kedua kakiku mumet luar biasa. Tapi sebuah amanah alias ngedit dadakan harus berjalan. Aku pantang mengecewakan selagi mampu.

“Tapi dirimu punya hak istirahat khan?”

Iya, punya. Tentu saja aku memikirkan kondisiku. Toh, posisi yang tidak dibenarkan tapi begitu nyaman buatku adalah posisi sambil berbaring dengan kaki belakang terangkat….*gak perlu ditiru.

Apa hasil dari mengedit? Beragam pembelajaran. Mengenai tulisan orang. Kita akan tahu seberapa kualitas tulisan orang. Namun bukan berarti kita berhak menilai sesuka kita. Ada bagian yang akan bikin kita tersenyum mendapati kalimat yang menurutku lucu. Tak ayal aku pun berkerut dahi dengan susunan kalimat yang njlimet alias ruwet.

Terkadang dari membaca buku yang diedit seorang editor penerbit pun bisa jadi solusi. Namanya saja belajar otodidak. Tapi…. Saya tidak berani menjamin kalau naskah itu jatuh ke tangan si Om. Yakin, gak bakalan utuh seperti aslinya. Kalau gak makin baik malah jadi ancur versi dia. Ingat bagaimana sebuah ceritaku dikuliti mengenaskan sama si om dan berakhir dengan aku mendebatnya di bagian ini dan itu. Titik!



Tapi dia guru yang baik dalam berbagi ilmu….*kalau lagi beres. Toh, meski agak terlambat memenuhi kesepakatan. Aku berhasil menyelesaikan sambil ditemani mp3 beragam judul lagu. Hanya setitik harapan, semoga hasil perputaran otakku yang kadang blank dan ilmu yang tak seberapa kumiliki. Tidak mengecewakan yang bersangkutan. Lha wong yang melimpahiku job editor dadakan sudah pasrah bongkokan kok. Eh, ada sedikit yang tertinggal. Kalau mengikuti alur cerita naskah itu, banyak yang menjeweeeeeeeeeeeeer kisahku huhuhuhu *mewek guling2 bergantian dengan nyengir*

“Kok, Aku bangeeeeeeeeeeeeeeet!!!!!” :P

Saturday, November 27, 2010

Dia Pencemburu Dan Aku Putri Ngambek

Dia duduk tepat di depanku, hanya dibatasi sebuah meja. Sorot tajam matanya menelanjangi diriku yang salah tingkah. Entah, apa yang ada dalam pikirannya tentangku. Menatapku begitu dekat tanpa sekat ruang khayalan lagi.
“Hentikan tatapanmu!” rutukku dalam hati tanpa berani terlontar. Aku menunduk semakin dalam. Tak akan aku biarkan dia seenaknya menatapku tanpa meminta izin. Menikmati seraut wajahku yang entah berupa apa.
Diam dalam pikiranku sendiri. Dulu, aku mengenalnya begitu angkuh. Menyapa sekedarnya pun tidak. Hanya menampilan sepatah dua patah kata yang membuatku berkerut dahi. Sikapku? Sama cueknya. Ya, aku sebenarnya mendapat julukan si perempuan jutek, itu pun kalau waktuku di usik tidak pada tempatnya. Siapapun akan mendapat semburan omelanku yang membuat telinga merah.
Namun perlahan atau apalah alurnya. Aku dan dia menjadi dekat hanya karena ulah manusia tengil. Mungkin, kalau tak ada peristiwa yang membuatku mendengus kesal. Dia tak akan sedekat ini denganku.
“Terbuat dari apa hatimu dulu?” tanya pada diriku sendiri. Seperti tak percaya saja, pada akhirnya dia mampu terbuka padaku.
“Sudahlah, Nie…lupakan saja semua tentang dia. Kalau kamu ingat terus akan membuatmu tak bisa lupa padanya dan sakit terus.” Nasehatnya kudengar sambil tersenyum kecut.
“Bagimu mudah berkata begitu, An.” Sanggahku sengit. Ah, aku mungkin terlalu ketus padanya. Sosok yang aku kenal beberapa bulan namun akhir-akhir ini saja menjadi lebih dekat dan akrab.
“Oh, maaf kalau kamu tidak suka dengan kata-kataku. Sebagai teman aku hanya bisa mengingatkan demi kebaikanmu.” Ujarnya kemudian.
Teman? Ah, kita berteman berapa lama, An?
***
hari terus berputar silih berganti nama. Senin berujung pada Minggu, selalu begitu. Terkadang otak bandelku ingin menyalahi aturan itu.
“Kenapa tidak awal itu hari Kamis dan ujungnya menjadi Jum`at?” sungguh ide sangat konyol bukan. Aku pun tak pernah menemukan jawaban untuk hal itu. Apalagi menjadi kenyataan, yang ada aku tergelak-gelak dengan otak bandelku.
Memoriku kembali padanya. Sudah lama tak lagi aku mendengar kabarnya. Hingga suatu hari dia datang mengejutkan aku.
“Hai, Nie…Apakabar?” sapanya ramah. Ya ya…sikapnya mulai melunak tak secanggung dulu.
“Hmm…baik, An. Tumben bertanya kabarku. Kupikir kamu sudah lenyap tertelan bumi yang angkuh ini?” Angkuh seperti awal kita jumpa batinku.
“He..he…aku…” menggantung.
“Kamu kenapa?” Apa peduliku ingin tahu begini.
“Aku kangen kamu, Nie.” Jawabnya kemudian.
Hening. Dahiku berkerut heran.
“An, sejak kapan kamu punya kata itu dalam hidupmu selama mengenalku?” tanyakulebih aneh. Bukan kegirangan karena dia merinduku.
“Sejak aku punya kata itu untukmu.”
Aku bungkam dalam senyum.
***
Waktu makin mendekatkan dia padaku. Berbagi cerita tentang indahnya rangkaian kalimat. Dia penyuka dunia tulisan sepertiku. Tapi beda pengungkapan saja. Aku lebih sederhana dan dia lebih rumit. Tapi nyatanya aku dan dia selalu menemukan ujung jalan obrolan sederhana sekalipun. Hingga aku menyadari ada sesuatu yang disembunyikan padaku.
“Kamu jadi lebih perhatian padaku, An?”
“Tidak boleh?”
“Bukan begitu. Aku perlu alasan tentunya? Tanyaku basa-basi.
“Penting bagimu?”
“Sangat.”
“Ah, tidak perlu aku jelaskan. Baca saja dari mataku, Nie.” Jawabnya enggan terus terang.
“Bisakah tidak membuat rumit, An?” pintaku memohon.
Tak pernah ada jawaban hingga semua menjadi begitu indah bagiku juga dia.
***
Dalam satu hati ada cinta
Menjadi tiap bagian nafas kehidupan
Dimana kaki berpijak
Akan ada cerita terlukis
Pada kanvas putih kenangan…
Bernyawa ketika disentuh jari-jari kebaikan
Aku
Dia
Mengores dengan warna yang sama.
Aku tertegun dalam berkepanjangan, saat ungkapan hati bersuara.
“Aku mencintaimu, Nie.”
“Apa yang kamu cintai dariku?”
An menatap ujung kepala hingga kakiku dengan tatapan ramah. Bukan gejolak syafwat.
“Aku mengerti. Terima kasih.” Ujarku menunduk, menekuri bentuk ubin mengkotak-kotak.
Sejak saat itu dia sangat perhatian. Menghujaniku kenyamanan pada hati. Ah, dia mulai berani memanggilku dengan panggilan khusus. Cinta Nie. Sempat aku memprotes sikapnya.
“An, jangan manggil cinta ya. Panggil saja tetap Nie.”
“Aku suka cinta. Kamu tidak boleh melarangku. Seharusnya kamu memanggilku dengan panggilan khusus juga.” Sanggahnya menuntut balik. Ah, bukan tuntutan. Hanya semacam permintaan pada orang yang mempercayakan tempat untuknya di hatiku.
“Sayang An?” tanyaku ulang.
“Tidak keberatan Cinta?” aku menggeleng dan tersenyum bersamaan.
***
Mengenal lebih dekat hatinya. Kebiasaan dan sikapnya terhadapku dan lainnya. Dan aku mendapati sebuah sikap yang aku sendiri tak punya. Sungguh, aku memang tak sempurna. Dia pun tak mencari hal itu. Hanya pada kata mendekati sempurna menurutnya. Aku nyaris menangis terpekik, ketika suatu hari dia memprotes sikapku.
“Aku tak suka kalau cintaku bergurau seenaknya dengan lelaki lain. Di depanku atau pun tidak.” Katanya tegas.
“Sayang An, aku tak ada apa-apa dengan mereka.” belaku dengan mata mulai berkaca-kaca.
“Sekali aku tidak suka, ya tidak suka Cinta. Mengertilah.” Timpalnya menegaskan.
“Baiklah.” Usai menyahut aku meninggalkan dia begitu saja dengan isak tertahan. Aku pun punya hak membela diri dan kenapa dia tak mau mendengarnya.
***
Aku memaafkan sikapnya saat itu. Aku memergoki dia sendiri sedang bergurau dengan perempuan lain pada dunianya. Aku? Tidak seperti dia.
“Siapa Lyn?” tanyaku hati-hati.
“Tahu darimana tentang dia?” sahutnya balik bertanya.
“Dia Lyn yang pernah kamu dekati bukan?”
“Ya.” Jawabnya tanpa membantah.
“Oh…” mulutku membentuk huruf O.
Sejak saat itu aku jarang sekali bersuara. Hanya sesekali menanggapi ucapannya pendek-pendek. Hingga aku benar-benar tak ingin berbicara dengannya. Aku mogok bicara!
Dia menjelaskan panjang lebar tentang Lyn. Tidak dan bukan aku diam karena cemburu membakar hatiku. Aku ngambek karena dia tak pernah jujur sejak awal. Aku benci kebohongan dan pengkhianatan. Bila sudah begitu, dia akan mengeluarkan jurus-jurus meluluhkan aku.
“Cinta Nie, aku hanya sayang dan cinta kamu.” Ucapnya dengan kesungguhan yang kubaca dari sorot matanya.
“Aku tidak suka kamu tidak jujur Sayang An.” Sahutku manyun.
“Aku janji.” Jawab Sayang An.
Dia duduk manis di sampingku. Menikmati siluet senja di balkon rumahku. Dia bercerita tentang gadis masa lalunya yang telah berpulang ke Rahmatullah. Tentang cintanya yang berlebihan. Lukanya yang begitu dalam kehilangan gadis itu. Keterpurukannya yang nyaris merenggut masa depan dan semangat An.
“Aku mencintaimu, seperti aku mencintai Rabia dulu, Cinta.” Aku menggigit bibirku mendengar pengakuannya.
“Aku begitu pencemburu terhadap Rabia dan kini kamu. Maafkan Cinta. Aku takut kehilangan lagi.” Aku semakin getir. Aku tak cemburu mendengar semuanya. Tidak pun dicubit-cubit hatiku. Aku pernah cemburu hanya pada seseorang bernama Aya.
Aku pernah ngambek tak sudi menerima semua perhatian An jika sudah mengungkit tentang Aya. Perempuan yang mencintai An, sama sepertiku. Tapi tidak terhadap Rabia.
Hingga senja berlalu sekian hari. Dia tetaplah pencemburu bila aku akrab dengan lelaki lain. Dan aku putri ngambek bila dia menyalahi hal yang tidak aku sukai. Perpaduan sifat diantara cinta An dan sayang Nie.

________ Selesai________

Yogyakarta, 26 November 2010

Tuesday, November 23, 2010

Kerikil Kehidupan

Bismillah...





Saat ini berjalan diterjalnya kehidupan.

Bolehlah aku mengais sakit, menginjak kerikil-kerikil itu.

Tapi aku takut.

Bukan pada merahnya darah.

Pada bekasnya luka.

Aku takut sendirian mencungkilnya.

Untuk aku buang kemana? atau aku simpan dalam wadah menjadi pajangan.

Mengingat dalam perjuangan hidup dan mati...

Serengkuhan kawan...

Aku butuh

Dan adakah yang akan mengulurkan untukku?



*Diredanya gemuruh jiwa ringkih di antara 3 malaikat kiriman-Nya*



Tempat bernaung, 17 November 2010


Aku menulisnya ketika diri ini berani mengambil keputusan. Keluar dari rumah. Bukan sekedar keputusan emosional terhadap keluarga.Tapi mungkin itulah saatnya aku bangkit setelah sekian bilangan hari memanjakan badan dan pikiran. Meski ada sesak yang tertahan ketika kaki ini melangkah keluar rumah. Ah, aku butuh ruang dan waktu yang benar-benar mampu menggodok kedewasaanku.
Sepulang ke Indonesia aku hanya berpegang pada prinsip untuk tidak pesimis dengan negeriku sendiri. begitu pun atas nasehatnya meyakinkan aku. Andai aku lemah, mungkin aku akan kembali meninggalkan jauh negeriku dan keluargaku ke tempat yang berbeda. Hanya memuaskan emosi dan melarikan luka. Ada dia tak akan membiarkanku melakukan hal itu lagi.
Sama hal seperti sekarang ini, ketika keputusan ini kuambil, dia tetap mendukung keputusanku tanpa menyalahkan sedikitpun.Karena dia yang lebih memahami hati dan pikiranku. Dan uluran tangan sahabat yang begitu hangat seperti saudara perempuan bagiku.

Entahlah, apakah ini salah atau tidak. Semoga aku mampu menghalau kerikil kehidupan yang akan menguatkanku untuk menatap masa depan.